Siti Uripah sedang menjahit pesanan
Bagi Siti Uripah, deru mesin jahit di rumahnya di RW 19 Kampung Beting, Jakarta Utara, punya arti yang sangat praktis: bagaimana pekerjaan jahit-menjahit ini bisa menutupi biaya sekolah anak-anaknya. Kini ia melayani sekitar 50 pelanggan tetap setiap bulan, dan beberapa kali terpaksa menolak pesanan karena tidak lagi tertampung. Suara mesin yang sama terdengar dari rumah-rumah penjahit lain di Kampung Beting, hasil pendampingan pemberdayaan ekonomi masyarakat oleh Yayasan Wadah Titian Harapan (Wadah) sejak sembilan tahun lalu.
The tailors supported by Wadah no longer wait for step-by-step instructions from their mentors. The most significant change lies in how they view themselves: from aid recipients to business owners who calculate their own costs and select their own orders. Even so, this self-reliance is not yet uniform; each tailor is at a different stage.
Perubahan cara pandang dari “penerima bantuan” menjadi “pengelola usaha” inilah yang mengantar Kelompok Jahit Kampung Beting naik status menjadi mitra Koperasi Wadah Titian Harapan. Peran Wadah pun bergeser dari pembimbing penuh menjadi mitra sejajar. Kini, para penjahit memiliki kebebasan memutuskan pesanan mana yang akan mereka terima.
Sembilan Tahun Pendampingan
Pendampingan Yayasan Wadah pada kelompok penjahit di Kampung Beting dimulai sejak 2017. Sasarannya sejak awal adalah agar usaha jahit-menjahit tersebut mampu berjalan sendiri. Bentuknya konkret: berupa bantuan mesin jahit, pelatihan keterampilan menjahit, pelatihan manajemen keuangan, hingga literasi digital untuk memperluas akses pasar secara online.


Kursus pelatihan yang diikuti oleh para penjahit dari Kampung Beting
Intensitas pendampingan dijaga tetap konsisten. Setidaknya satu kali dalam sebulan, tim Wadah turun langsung memantau perkembangan usaha mereka, sekaligus mencari solusi cepat atas berbagai kendala yang dihadapi.
Hasilnya terlihat pada ragam produk. Jika sebelumnya kelompok ini hanya menerima pesanan jahit dasar, kini mereka memproduksi lima jenis produk, yaitu sarung bantal kursi, tote bag, table runner, tatakan gelas, dan tas tenis. Sebagian di antaranya dijual di luar pesanan rutin yang biasanya mereka terima.
Tiga Penjahit, Tiga Tahap
Perkembangan usaha itu paling mudah dilihat dari capaian masing-masing penjahit. Ibu Siti Uripah, misalnya, kini terpaksa menolak sebagian pesanan dari PT Retota Sakti (Retota) karena pekerjaan permak dari tetangganya sudah melebihi kapasitasnya. Retota adalah produsen dan eksportir tenun serat alam, yang selama ini memesan produk dari kelompok jahit Kampung Beting.
Sejak mendapatkan pendampingan dari Yayasan Wadah, penghasilan Uripah dari menjahit naik hampir seratus persen. Saat ini, ia sudah memiliki 50 pelanggan tetap setiap bulan, dengan jangkauan usaha yang semakin meluas dari tempat tinggalnya di RW 19 hingga ke RW sekitar.


Siti Uripah
Keterampilan Uripah juga berkembang di luar permak pakaian. Ia mampu mengerjakan produk khusus seperti penutup troli ompreng untuk Dapur Gizi SPPG Koja, Kampung Beting.
“The change has been very noticeable, particularly in helping to cover my children’s education costs. I’ve now started my own alteration service alongside my regular orders. In fact, I’ve even had to turn down orders from Retota on several occasions because I’ve had so many alterations to do for neighbours,” ujar Uripah.

Siti Uripah dengan hasil jahitannya
Sementara itu, Ibu Een, penjahit lainnya dari Kampung Beting yang fokus memproduksi tatakan gelas dan tas, mampu mencatatkan omzet rata-rata Rp1 juta per bulan.
Produktivitasnya tergolong tinggi, tidak kurang dari 300 tatakan gelas dapat diselesaikannya hanya dalam 3 hari. Namun demikian, rata-rata pesanan Retota yang dikerjakan Een hanya sekitar 200 buah. Sisanya merupakan orderan yang tidak rutin dari pemesan lain. Berbeda dengan Uripah, sebagian besar pendapatan Een masih bertumpu pada satu pembeli. Di titik inilah pendampingan lanjutan masih dibutuhkan.


Een
“I am so grateful to have come to know Wadah, which introduced me to Retota. It is thanks to Wadah’s help that I am able to earn an income from sewing. My main income comes from Retota’s orders. I hope that Wadah can continue to support us,” kata Een.

Een dengan hasil jahitannya
Penjahit ketiga, Pak Tony Suratno, awalnya menekuni jahit-menjahit hanya sebagai usaha sampingan di luar pekerjaan utamanya. Kemudian, melalui pesanan dari PT Sinergi Titian Harapan, ia dipercaya menjadi mitra produksi tote bag untuk acara Celebration of Life, agenda tahunan Wadah. Bersama istrinya, Ibu Susi, yang lebih dahulu menekuni jahit-menjahit, ia kini mampu memproduksi sekitar 200 tas per bulan.


Tony dengan istrinya Susi
Bertahan di Tengah Keterbatasan
Keterbatasan tetap menjadi tantangan nyata, terutama akses terhadap alat dan ketersediaan bahan baku yang belum sepenuhnya lancar. Untuk itu para penjahit Kampung Beting menyikapinya dengan bergantian memakai alat dan mengatur ulang jadwal produksi agar setiap pesanan tetap selesai tepat waktu.


Alat dan bahan baku menjahit
Peralatan jahit yang dipakai bergantian membuat pesanan menumpuk pada satu alat, sedangkan permintaan yang datang kepada Uripah sudah melebihi kapasitasnya sendiri. Kelompok ini memerlukan penambahan peralatan jahit agar lebih bisa menjawab kebutuhan, sehingga pesanan yang masuk tidak lagi terpaksa ditolak karena keterbatasan alat. Wadah kini menjajaki dukungan lanjutan untuk menutup kebutuhan tersebut.
Regenerasi dan Perluasan Pasar
Ke depan, Tony dan Susi punya rencana untuk membuka lapangan kerja bagi warga sekitar dan mewujudkan merek dagang sendiri bernama KarSen, kependekan dari Karya Sendiri. Tony berharap Wadah terus mendampingi mereka sampai merek itu benar-benar menjadi kenyataan.
Kelompok ini juga berencana memperluas jejaring pesanan ke luar Retota, sekaligus menularkan keterampilan menjahit kepada generasi muda agar keterampilan dan penghasilan yang dibangun selama sembilan tahun ini berlanjut ke generasi berikutnya.
Yang Tumbuh dalam Sembilan Tahun

Een, Toni, & Siti Uripah
Sembilan tahun pendampingan di Kampung Beting menunjukkan hal yang cukup sederhana. Ketika keterampilan diasah dan akses pasar dibukakan, penghasilan keluarga ikut naik, dan itulah ukuran yang paling terasa bagi warga.
Uripah mengukurnya dari biaya sekolah anak-anaknya yang kini tertutupi. Pekerjaan berikutnya juga sudah terlihat, yaitu memastikan pesanan mereka tidak lagi bergantung pada satu pembeli, dan keterampilan ini berpindah ke tangan generasi berikutnya.
Author: Afida Nurul Hilma
Editor: Zul Herman





