+62 21 5799 2162

Bukan Sekadar Restoran - Perjuangan Bosskid Mengubah Kehidupan di Tepus

Suasana ramai di Resto Bosskid

Menjelang tengah hari, dapur Resto Bosskid seolah sedang berlari. Seorang pelayan membawa nampan berisi kakap bakar melewati pintu dapur. Dari sudut lain, terdengar wajan berdesis, asap tipis naik dari tungku, dan di teras restoran para pengunjung berebut tempat terbaik untuk memandang laut.

Hari itu tiga bus rombongan pelajar dari SMP Negeri 2 Magetan singgah untuk makan siang seusai bermain di pantai. Winarti atau dikenal dengan Win, berdiri sejenak di dekat dapur, mengawasi semuanya. Sesekali ia mengoreksi penyajian, lalu kembali ke belakang. Sudah bertahun-tahun ia melakukan hal yang sama. Tidak banyak tamu tahu bahwa restoran yang mereka datangi hari itu berdiri di atas cerita yang jauh lebih panjang daripada daftar menu di tangan mereka.

Berawal dari Kegelisahan

Hampir dua puluh tahun lalu, sebelum ada restoran di bukit batu karang itu, yang ada hanyalah kegelisahan seorang Juni Sunarto. Ia menyaksikan semakin banyak saja anak muda di kampungnya, desa Tepus di Gunungkidul, meninggalkan sekolah. Sebagian bekerja serabutan di kota, sebagian menikah muda, sebagian lagi sekadar menjalani hari tanpa banyak pilihan.

Awal mula PKMW Bosskid

“Kalau begini terus, kampung ini mau jadi apa?” pikirnya galau dan risau.

Kegelisahan itulah yang mempertemukannya dengan anak-anak muda di Dusun Ngasem, Tepus, Gunungkidul. Bersama Win, yang kemudian menjadi istrinya, dan beberapa kawan, ia membuka ruang belajar sederhana di rumah orang tuanya. Mereka menamainya Bosskid - Bocah Sisi Kidul. Ada sanggar tari, pendampingan belajar, dan keterampilan batik serta menjahit. Sejak 2008, Yayasan Wadah ikut mendampingi mereka. Tak seorang pun membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian nama itu akan terpampang di sebuah restoran yang kini ramai dikunjungi wisatawan.

Setelah Belajar, Lalu Apa?

Awalnya, Bosskid bukan soal bisnis. Bosskid adalah soal anak-anak kampung: bagaimana membuat mereka tetap punya alasan untuk belajar, dan tetap punya alasan untuk bermimpi.

Lalu muncul satu pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Setelah belajar, lalu apa? Tidak semua anak akan melanjutkan sekolah, tidak semua punya kesempatan merantau namun mereka butuh pekerjaan.

Dari pertanyaan itulah semuanya berawal dan berkembang. Pada 2011, lahir gagasan untuk menggandeng Karang Taruna untuk membuka wisata Pantai Somandeng. Tak lama setelah itu, di bukit batu karang bernama Watusamudra, di Pantai Indrayanti, Juni dan Win bergotong-royong bersama Yayasan Wadah, mulai membangun resto pelan-pelan. Resto ini diberi nama “Bosskid”.

Resto Bosskid 2016

Belajar dari Setiap Kesulitan

Upaya pasangan aktivis desa yang tangguh ini tidak selalu berjalan mulus. Tahun lalu jumlah tamu sempat anjlok sekitar 30 - 40 persen, terimbas terbitnya edaran pembatasan study tour sekolah. Alih-alih menyerah, Win dan Juni menjawabnya dengan berbenah, melakukan renovasi, inovasi menu, dan promosi. Mereka menggandeng biro wisata dari berbagai daerah, bahkan dari Malaysia dan India, ikut pameran dan travel dialog serta menawarkan paket wisata yang terkoneksi hingga Bali dan Lombok. Sebuah unggahan media sosial dari seorang artis FTV pun ikut mengerek nama Resto Bosskid. Persaingan di sepanjang pantai justru menjadi ujian seberapa tangguh usaha ini berdiri.

Kini, saat ramai, restoran ini bisa menerima sekitar 1.500 tamu sehari. Dapurnya digerakkan sembilan karyawan tetap, termasuk dua koki dan asisten masak, serta 10 hingga 20 tenaga lepas ketika tamu membludak. Semuanya warga Tepus, dan bahan bakunya dibeli dari pemasok setempat. “Kendala itu kami perlakukan sebagai tantangan yang menguatkan dan mendewasakan kami,” kata Juni dan Win mantap. Wadah, yang dulu menuntun di langkah-langkah awal, kini cukup berdiri di belakang, menjaga agar ruang untuk terus tumbuh tetap terbuka.

Resto Boskidd sekarang

Bukan Hanya Soal Makanan

Bagi Win dan Juni, restoran ini tak pernah benar-benar hanya soal makanan. Mereka masih ingat Wasni. Saat pertama datang bekerja, perempuan itu membawa banyak beban di pikirannya. Tubuhnya kurus, wajahnya selalu tampak letih dan pikirannya tak pernah benar-benar tenang.

Win & Jun

Tidak ada yang bisa mengubah hidup seseorang dalam semalam. Maka yang dilakukan Win sederhana saja: mengajak Wasni duduk dan bercerita. Akhirnya Wasni bercerita tentang hidupnya, kesulitannya, dan berapa jumlah utang yang harus ditanggungnya. Win mengajaknya berhitung, berapa penghasilannya dan berapa yang bisa disisihkan. Sedikit demi sedikit, sampai suatu hari Wasni bisa membeli tas sekolah anaknya tanpa berutang lebih dulu dan bisa menabung. “Yang penting hidupnya lebih tertata,” kata Win singkat.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi mungkin di situlah arti sebenarnya dari Bosskid. Bukan pada ramainya restoran saat musim liburan. Bukan pula pada banyaknya tamu yang datang setiap hari, melainkan pada orang-orang yang hidupnya perlahan menjadi lebih baik karena ada tempat yang memberi mereka kesempatan untuk berdiri kembali.

Suasana sore di Resto Bosskid

Author: Paula Stela Nova L

Editor: Zul Herman

Comment