Aliya membantu anak-anak di PAUD Despuri Ceria dengan kata-kata Bahasa Inggris
Sebuah pelajaran yang tidak pernah saya temukan di ruang kuliah, dan juga tidak tertulis dalam berbagai teks-teks tentang kebijakan setebal apa pun. Pelajaran itu saya temukan ketika saya berhenti membaca tentang komunitas, dan hadir secara nyata di tengah-tengah mereka.
Dari Januari hingga April tahun 2026, saya berkesempatan menjadi sukarelawan di Yayasan Wadah. Sebagai mahasiswi Master Kebijakan Publik dan Manajemen, saya datang dengan rasa ingin tahu: bagaimana sesungguhnya sebuah yayasan bekerja dari balik layar? Ternyata yang saya dapatkan jauh melebihi jawaban yang saya harapkan. Saya pulang dengan sebuah keyakinan yang kini mengakar kuat dalam diri saya bahwa kebijakan yang baik dimulai dari seberapa dekat atau akrab kita dengan apa yang kita amati.Kita tidak akan pernah memahami sebuah komunitas hanya dari membaca berbagai laporan tentang komunitas tersebut. Kita harus hadir langsung, mendengarkan, dan melihat sendiri bagaimana masyarakat di komunitas tersebut menjalani hidup serta apa saja tantangan yang harus mereka hadapi sehari-hari.
Sambutan Hangat di Pintu Pertama
Kunjungan pertama membawa saya ke komunitas Despuri. Di sana saya bertemu Kak Sherly, Bunda Pur, dan para guru PAUD yang kemudian menerima saya dengan tangan terbuka dan mengajari saya segalanya dengan senang hati.
Awalnya, saya berpikir bahwa saya datang untuk memberi, tetapi yang pertama saya rasakan justru sebaliknya, menerima. Kehangatan itu masih melekat kuat dalam diri saya hingga hari ini. Sejak hari pertama bersama mereka, saya merasa dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga mereka. Di situlah saya mulai memahami arti pemberdayaan yang sesungguhnya yaitu komunitas yang berdaya bukanlah komunitas yang menunggu ditolong, melainkan komunitas yang mampu menerima dengan tangan terbuka siapa pun yang datang.

Pertemuan pertama dengan komunitas Despuri
Di Warabal, saya mendengar kisah yang terus membekas di hati saya. Bu Kiswanti menolak menyerah pada citra negatif yang sejak lama melekat pada desa tempat tinggalnya. Ia memulai dari yang kecil: sebuah ruang belajar dan literasi di halaman rumahnya. Dari halaman kecil itu, kini berdiri ruang belajar dua lantai yang digunakan seluruh komunitas, dan tak jauh dari sana, sebuah dapur gizi tengah dibangun. Dari beliau saya belajar satu hal yang menjadi inti seluruh perjalanan ini:perubahan sejati tidak pernah terjadi secara instan. Ia tumbuh secara perlahan, melalui orang-orang yang sungguh-sungguh peduli.
Ketika Mengamati Saja Tidak Lagi Cukup
Setelah kunjungan-kunjungan pertama itu, hati saya berkata: melihat saja ternyata tidaklah cukup. Berbekal pengalaman mengajar bahasa Inggris, saya bersama mentor saya menyusun sebuah modul pengajaran yang sederhana: berisi lagu, permainan, dan percakapan sehari-hari, agar kelak dapat digunakan oleh para sukarelawan berikutnya, sehingga pembelajaran bahasa Inggris dapat terus berlangsung walaupun tidak ada guru khusus. Saya ingin meninggalkan sesuatu yang tetap hidup, jauh setelah masa bakti saya berakhir.


Aliya mengajar di PAUD Despuri Ceria
Tempat yang paling membekas di hati saya adalah PAUD Despuri, tempat saya mengajar hampir setiap hari. Hari-hari pertama saya penuh tantangan dan bahkan gagal. Namun dengan kesabaran para guru, saya belajar tiga hal yang tidak diajarkan universitas mana pun yaitu memulai sesuatu dengan pelan, dari yang sederhana, dan membiarkan anak-anak mempraktikkannya. Lalu keajaiban kecil itu datang, di mana setiap pagi, bahkan sebelum kelas dimulai, anak-anak menyambut saya dengan sapaan bahasa Inggris dan menyanyikan lagu-lagu. Di momen-momen kecil itulah saya merasa paling bahagia.
Kasih Para Ibu yang Mengubah Cara Saya Memandang Dunia
Jika ada satu hal yang paling menyentuh hati saya sepanjang perjalanan ini, itu adalah kecintaan para ibu terhadap komunitasnya. Saya menyaksikan guru-guru yang terus belajar meski penuh tantangan. Kecintaan itu saya temukan pada ibu-ibu di lomba PAUD Jakarta Timur. Juga pada para anggota komunitas yang berkumpul mengelilingi anak-anak mereka. Mereka melakukan itu bukan demi pujian. Tetapi karena mereka sungguh-sungguh peduli, tanpa pamrih.


Aliya mengajak teman-temannya ke PAUD Despuri Ceria
Saya baru bisa memahami makna terdalam dari semua itu ketika saya kembali ke Despuri untuk menghadiri wisuda PAUD. Kali ini bersama ibu saya sendiri. Sambutan hangat datang dari para guru, anak-anak, dan seluruh ibu komunitas. Bahkan ibu saya disambut dan dilibatkan dalam upacara, seolah beliau telah lama menjadi bagian dari keluarga besar Despuri. Berdiri di sana, di samping ibu saya, dikelilingi para keluarga, saya akhirnya memahami apa makna dari seluruh waktu yang telah saya dedikasikan di Despuri. Lengkaplah lingkaran cinta tersebut: saya, seorang anak yang dibesarkan dalam siraman kasih seorang ibu, berdiri di tengah komunitas yang juga digerakkan cinta para ibu, untuk membuka jalan ke masa depan anak-anak mereka.
Perubahan Dibangun Pada Suatu Ketika dan Kesempatan
Menoleh ke belakang, pengalaman ini mengubah cara saya dalam memandang perubahan. Perubahan sejati jarang bermula dari dokumen kebijakan atau ruang rapat. Ia lahir dari orang-orang yang peduli, dan dari kepercayaan yang dibangun pada suatu ketika dan kesempatan. Saya juga semakin yakin bahwa pendidikan bukan sekadar pelajaran di ruang kelas, ia adalah fondasi tempat seluruh masa depan seorang anak dibangun.

Aliya bersama dengan guru-guru dan anak-anak PAUD Despuri Ceria
Saya datang untuk memberi, tetapi pulang dengan hati yang jauh lebih kaya. Terima kasih, Yayasan Wadah, telah membuka mata saya dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang kehangatan dan dedikasinya akan saya kenang sepanjang hidup saya.
Pada akhirnya, perubahan itu tidak diturunkan dari atas. Ia ditumbuhkan dari bawah melalui sapaan, melalui lagu, pada suatu ketika dan kesempatan.
Author: Aliya Penn - Sukarelawan Program Volunteering Yayasan Wadah
Editor: Zul Herman





