Delegasi Universitas Chicago di PAUD Kuntum Harapan Kampung Beting
Pada Senin, 14 September 2026, Yayasan Wadah Titian Harapan (Wadah) menerima kunjungan 24 mahasiswa program sarjana (S1) Universitas Chicago (UChicago) beserta staf pendamping universitas. Kunjungan ini merupakan bagian dari program Global Health Career Trek (GHCT) to Jakarta, yang diselenggarakan Office of Career Advancement, University of Chicago, pada 14–16 September 2026. Lembaga yang biasa disebut sebagai UChicago Career Advancement ini adalah badan pelayanan karier bagi mahasiswa sarjana (S1) dan alumni baru di Universitas Chicago. Mereka membantu mahasiswa mempersiapkan diri dan mendapatkan pekerjaan, magang, serta peluang untuk melanjutkan studi ke program pascasarjana pilihan mereka.
Melalui program ini, mahasiswa mengenal langsung lembaga, praktik kerja, serta isu pembangunan dan kesehatan global lewat kunjungan dan dialog dengan para praktisi di Jakarta.
From the outset, Wadah designed the visit as a field-based learning experience. In addition to learning about the organisation through presentations, the students were invited to see how health, nutrition and education are interlinked in the daily lives of the community. The delegation first visited Kampung Beting a community that Wadah works with in Koja, North Jakarta; from there they went on to the Wadah Foundation House and the Tebet Community Health Centre (Puskesmas Tebet). Wadah hopes this encounter will mark the beginning of a mutually beneficial partnership.
Seeing the Nutrition Kitchen in Action


Mahasiswa Uchicago di Dapur Gizi Koja
Pagi hari, rombongan mahasiswa UChicago yang didampingi Wadah, tiba di Dapur Gizi (SPPG) Koja. Di sini mereka melihat proses penyiapan makanan, pengendalian mutu, dan cara tim SPPG bekerja. Tim Dapur Gizi Koja ini yang sebagian besar berasal dari warga sekitar, bekerja dengan sarana yang tersedia. Dengan menyaksikan bagaimana SPPG bekerja, mahasiswa memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang hubungan antara kebijakan, standar pelayanan, ketersediaan sumber daya, dan pelaksanaan di lapangan. Bagi Wadah, warga yang ikut menjalankan dapur ini adalah wujud pemberdayaan: masyarakat turut menggerakkan pelayanan yang manfaatnya kembali ke lingkungan mereka sendiri.
Mendengar Langsung dari Warga Kampung Beting
Dari Dapur Gizi, mahasiswa mengunjungi PAUD dan berdialog dengan warga Kampung Beting. Kampung ini adalah permukiman padat yang kerap tergenang banjir dan selama bertahun-tahun bergulat dengan persoalan identitas dan legalitas kependudukan.


Mahasiswa Uchicago bersama masyarakat Kampung Beting
Mahasiswa mendengar bahwa pendampingan Wadah di sini tidak dimulai dengan program besar. Jauh sebelum ada fasilitas maupun program kesehatan, Ricardo Hutahaean, aktivis Wadah dan Ketua RW Kampung Beting, aktif membantu warga mencatatkan kelahiran anak dan mengurus administrasi kependudukan agar mereka memiliki identitas hukum dan tercatat oleh negara. Dari akses dasar itu, kepercayaan warga tumbuh dan pendampingan berkembang mengikuti kebutuhan mereka, yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.
Di Kampung Beting, mahasiswa melihat bahwa kesehatan dan kesejahteraan warga berkaitan erat dengan identitas hukum, akses terhadap pelayanan publik, pendidikan, dan kondisi keluarga. Mereka juga menyaksikan bagaimana kepercayaan antara pendamping dan warga dibangun dalam waktu yang cukup panjang, sesuatu yang sulit dipelajari di ruang kelas.
Mengunjungi Puskesmas Tebet


Mahasiswa UChicago yang berkunjung ke Puskesmas Tebet
Atas dukungan dan koordinasi Kementerian Kesehatan, sore harinya, rombongan mengunjungi Puskesmas Tebet, Jakarta Selatan. Kepala Puskesmas Tebet, dr. Kristiani, beserta tim menyambut rombongan dengan hangat. Didampingi dr. Ajeng dan dr. Kartika, mahasiswa mendapat penjelasan dalam bahasa Inggris tentang sistem pelayanan kesehatan primer, jenis pelayanan yang tersedia, dan alur pelayanan kepada Masyarakat. Kemudian, dilanjutkan dengan meninjau fasilitas yang dimiliki Puskesmas Tebet secara langsung. Meski sebagian masih lelah dan mengalami jet lag setelah perjalanan panjang, mahasiswa tetap antusias dan aktif berdiskusi.
Kunjungan ini melengkapi pengalaman mereka hari itu. Pagi harinya mereka bertemu warga Kampung Beting yang dulu belum tercatat oleh negara, dan sore harinya mereka melihat bagaimana negara menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi warganya melalui puskesmas. Pengalaman Wadah menunjukkan bahwa identitas hukum membuka akses warga terhadap pelayanan publik, dan pelayanan yang berkelanjutan tumbuh dari kerja sama pemerintah dan masyarakat.
Menjajaki Kerja sama Lanjutan dengan Wadah
Paige Williams dari UChicago Career Advancement, menyampaikan apresiasi atas kesungguhan Wadah dalam mempersiapkan dan mendampingi kunjungan, sejak komunikasi awal hingga seluruh kegiatan selesai. Menurutnya, para mahasiswa merasa kunjungan mereka dipikirkan dan dipersiapkan secara khusus.
Paige juga menyebut mahasiswa memperoleh pelajaran yang tidak mereka duga sebelumnya, yaitu tentang kepemimpinan. Cara tim Wadah bekerja bersama, hubungan antara pimpinan dan anggota tim, serta rasa saling menghargai dan saling percaya yang tampak sepanjang hari menjadi bahan refleksi bagi mereka. Bagi para mahasiswa, menyiapkan karier juga berarti bertanya pada diri mereka sendiri tentang pribadi dan pemimpin seperti apa yang mereka inginkan kelak. Paige menambahkan, mahasiswa masih membicarakan kunjungan ke Kampung Beting dan sudah memiliki sejumlah gagasan yang mungkin dapat ditindaklanjuti.

Mahasiswa Uchicago bersama Prof. Stella Christie
Setelah kunjungan tersebut, pihak UChicago menyampaikan keinginan untuk melanjutkan kerja sama, antara lain melalui program magang mahasiswa dan program bersama lainnya, serta berharap kunjungan ini menjadi awal persahabatan jangka panjang dengan Wadah. Wadah akan menindaklanjutinya bersama pihak universitas untuk menentukan bentuk kolaborasi yang paling sesuai, termasuk kemungkinan kerja sama riset.
Penulis: Ani Widyastutik
Penyunting: Zul Herman, Aurora Nurhidayah Rifani





