Suasana kegiatan Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Kelompok bagi Penggerak Dasawisma
Ada keyakinan sederhana di Kampung Rinjani, Ambon bahwa kemandirian sejati tidak pernah turun dari atas, melainkan tumbuh dari bawah—dari rumah ke rumah, dari satu mama ke mama yang lain, dari obrolan kecil di teras yang perlahan menjelma menjadi gerakan. Bersama Yayasan Samaluku Hiti Nusa (SHN), Yayasan Wadah (Wadah) merawat keyakinan itu dengan sabar dan kini menemukan wujudnya di Rinjani.
Di kampung ini, Sekolah Perempuan Titian Harapan Rinjani dan Forum Pemuda Titian Harapan (FP2TH) sedang merajut cita-cita besar yang membumi yaitu menjadikan Rinjani sebagai contoh hidup—bukan sekadar model di atas kertas, tetapi kampung yang benar-benar bisa ditiru oleh komunitas dan desa lain di seluruh Kota Ambon. Untuk meraih cita-cita sebesar itu, semua orang di sini paham, harus dimulai dari hal yang paling mendasar yaitu menyiapkan manusianya.
Bukan Sekadar Pelatihan


Kegiatan dikusi
Melalui Pusat Kegiatan Masyarakat Wadah (PKMW) Rinjani, dibuka ruang belajar selama tiga hari penuh dari 28 hingga 30 April 2026. Namanya “Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Kelompok”, ditujukan bagi para penggerak Dasawisma. Siapa pun yang hadir paham bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan. Ini adalah undangan untuk percaya bahwa diri sendiri pun mampu memimpin perubahan.
Ruang belajar itu segera dipenuhi aura antusiasme. Para pemuda kampung datang dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Mama-mama—mereka yang selama ini menjadi tiang keluarga sekaligus penggerak paling setia di akar rumput—duduk berdampingan, siap untuk belajar. Pelatihan ini memang sengaja dirancang bukan untuk menjejali kepala dengan teori, melainkan untuk membuka ruang refleksi bersama: sudah sejauh mana kita melangkah, dan ke mana kita ingin pergi? Materinya dibawakan langsung oleh Zakiyah Samal—atau yang lebih akrab disapa Cak Kiky—Pimpinan SHN, dengan cara yang mengajak, bukan menggurui.

Cak Kiky sebagai narasumber
Dimulai dari Dasawisma
Mengapa Dasawisma? Karena di sanalah, di unit terkecil tatanan masyarakat, denyut perubahan sesungguhnya berdetak. Lewat kelompok kecil inilah warga belajar mengenali potensi diri, membaca dan mengamati berbagai persoalan yang terjadi di sekitar mereka, sementara beragam tantangan yang selama ini mereka hadapi hanya dirasakan tanpa pernah diucapkan.
Di sinilah kepemimpinan tumbuh—bukan kepemimpinan yang memerintah dari kursi kekuasaan, melainkan keberanian untuk melangkah lebih dulu, dengan percaya diri dan kecakapan untuk mengelola perubahan secara mandiri.
Tidak Ada Jalan Pintas
Namun menempa manusia bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan dalam waktu semalam. Cak Kiky tidak menyembunyikan kenyataan itu dari para peserta. “Untuk membangun Sumber Daya Manusia yang unggul bukanlah suatu hal yang mudah,” ujarnya, “melainkan membutuhkan proses, waktu yang panjang bertahun-tahun, dan kerja-kerja yang dilakukan secara konsisten serta berkelanjutan.” Kalimat itu bukan untuk menakuti, melainkan mengingatkan bahwa perubahan yang tahan lama selalu menuntut kesetiaan.
Dan di titik inilah komitmen Wadah bersama SHN menemukan maknanya. Mereka tidak datang sebagai tamu yang singgah sebentar lalu pergi. Mereka memilih untuk tinggal—mengawal tumbuhnya ekosistem organisasi lokal yang lahir dari rahim Wadah sendiri yaitu PKMW Rinjani, Sekolah Perempuan Titian Harapan, dan FP2TH.
Di dalam ekosistem inilah setiap orang ditantang untuk meleburkan ego, belajar bersinergi, menyatukan langkah, dan mengubah potensi yang selama ini terpendam menjadi aksi nyata yang menyentuh kehidupan—menuju masyarakat yang berdaya dan bermartabat.
Lentera Kemandirian itu Akan Menularkan Terangnya


Peserta pelatihan
Kini harapan itu disandarkan di pundak para mama dan generasi muda yang telah menyelesaikan pelatihan. Bukan harapan yang muluk, tetapi harapan yang masuk akal bahwa dari ruang belajar tiga hari itu akan lahir agen-agen perubahan yang tangguh, peka, dan tak mudah menyerah pada dinamika di sekitarnya. Melalui Dasawisma yang hidup dan solid, mereka diharapkan menjadi penggerak kesejahteraan keluarga— agar perubahan yang dimulai dari ruang-ruang kecil ini dapat menjaga anak-anak tetap belajar, keluarga hidup lebih sehat, dan rumah tangga memiliki daya untuk bertumbuh secara ekonomi.
Semoga selepas pelatihan ini, lentera kemandirian di Kampung Rinjani kian menyala terang dan menular dari satu rumah ke rumah berikutnya, membangkitkan kerelaan untuk saling menopang. Semoga Rinjani menjadi bukti yang sederhana namun meyakinkan - bahwa pada akhirnya, perubahan tidak lahir dari segelintir orang yang bekerja sendiri. Ia tumbuh ketika semakin banyak hati memilih untuk peduli, bergerak, dan saling menguatkan.
Author: Ovie Vieira
Editor: Zul Herman





