Pada tanggal 16 – 18 Desember 2025, Yayasan Wadah Titian Harapan (Wadah) menyelenggarakan Lokakarya (Workshop) Kesehatan Mental yang diikuti 20 Guru PAUD dari tiga komunitas, yaitu Komunitas Despuri Klender, Komunitas Al-Hidayah Penjaringan, dan Komunitas Warabal Bogor. Lokakarya ini merupakan tindak lanjut dari hasil asesmen kebutuhan tentang kesehatan mental bagi guru PAUD di Wilayah DKI Jakarta dan Kabupaten Bogor.
Kegiatan yang dipandu narasumber Y. Dian Indraswari ini, dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mengenali, mencegah, dan menangani berbagai tantangan psikologis sebagai pendidik. Kegiatan ini menjadi sangat penting mengingat guru PAUD seringkali mengabaikan kebutuhan kesehatan mental mereka sendiri karena budaya pengorbanan dan stigma yang masih melekat di masyarakat tentang kesehatan mental.

Narasumber Y. Dian Indraswari
Mengenali Kekuatan dan Kelemahan Diri
Kegiatan dibuka dengan antusiasme tinggi. Peserta dari tiga komunitas tersebut dibagi menjadi empat kelompok untuk membaur dan bertukar pengalaman. Setelahnya, mereka diminta menandai kekuatan dan kelemahan diri pada gambar tubuh yang diberikan narasumber. Hasilnya cukup mengejutkan dan sekaligus penuh makna.


Para peserta pelatihan berkelompok bertukar pengalaman
Mayoritas guru mengidentifikasi kepala, hati, dan tangan sebagai pusat kekuatan mereka. Kepala menjadi simbol kreativitas dan inovasi yang harus terus mereka hadirkan dalam menciptakan pembelajaran yang menarik. Hati mewakili kemampuan mereka memisahkan ego dan perasaan pribadi saat menghadapi anak-anak, memastikan energi positif selalu terpancar dalam setiap pembelajaran. Sementara tangan mencerminkan kemampuan multi-tasking mereka dalam menjalankan beragam peran dan tanggung jawab, dari mengurus rumah tangga hingga mengawasi anak-anak PAUD. Namun, kepala juga menjadi titik kelemahan terbesar. Stres akibat pekerjaan serta emosi yang tertahan menjadi beban mental yang mereka pikul setiap hari.
Sebagai penutup di hari pertama, peserta dibekali teknik relaksasi pernapasan 4-7-8, metode sederhana namun efektif untuk meredakan emosi dan stres dalam hitungan menit.
Praktik Langsung Psychological First Aid
Hari kedua dimulai dengan materi Psychological First Aid (PFA), sebuah respons segera yang bersifat suportif bagi individu yang mengalami peristiwa traumatis. PFA berfokus pada tiga langkah, yaitu Look (mengamati kondisi dan kebutuhan dasar), Listen (mendengarkan secara aktif dan empatik), dan Link (menghubungkan dengan dukungan lanjutan).
Antusiasme peserta meningkat drastis ketika diminta melakukan role play berdasarkan empat kasus. Beberapa kasus yang diperankan bahkan merupakan kasus asli yang pernah mereka alami, sehingga sesi ini menjadi sangat personal dan bermakna. Feedback (umpan balik) dari narasumber sangat sesuai harapan, karena pertolongan pertama yang mereka berikan sesuai dengan prinsip PFA, menunjukkan bahwa para guru benar-benar memahami dan siap menerapkan ilmu yang diperoleh.


Para peserta pelatihan melakukan permainan peran
Selanjutnya, peserta diberikan materi tentang Teknik Konseling Dasar sebagai bekal keterampilan pendampingan psikologis yang terstruktur bagi guru. Peserta diingatkan bahwa konseling berbeda dari sekadar curhat karena memiliki tujuan jelas, proses terstruktur, dan dijalankan dengan prinsip etika professional.
Sebelum menutup sesi hari kedua, pemateri memberikan tips praktis teknik "hold finger" untuk meredakan emosi. Teknik ini dilakukan dengan menggenggam satu persatu jari selama 3-5 kali tarikan nafas, karena setiap jari terhubung dengan perasaan spesifik seperti takut, khawatir, marah, hingga rasa kurang percaya diri.
Memahami Anak Bermasalah dan Refleksi Bermakna
Hari ketiga menghadirkan materi Pendekatan Psikologis Memahami Anak Bermasalah di Sekolah. Peserta belajar memahami reaksi trauma pada anak, prinsip penanganan yang tepat, hingga mengenali berbagai gangguan psikologis seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Anxiety Disorder, dan Autism Spectrum Disorder. Pemahaman ini penting agar guru dapat melakukan deteksi dini dan merujuk ke tenaga profesional jika diperlukan.


Para peserta pelatihan melakukan diskusi kasus
Dalam sesi refleksi yang dipandu fasilitator dari Yayasan Wadah, para peserta menyampaikan bahwa lokakarya ini sangat sesuai dengan harapan mereka. Mereka menyadari pentingnya prinsip "menyelamatkan diri terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain" dalam konteks kesehatan mental. Ketika guru PAUD memiliki mental yang sehat dan stabil, peserta didik juga akan merasakan dampak positifnya.
"Pelatihan kesehatan mental ini sangat kami tunggu-tunggu," ungkap salah satu peserta dengan penuh semangat. Lokakarya ini membantu mereka memahami coping mechanism (strategi atau cara) yang tepat saat menghadapi stres. Mereka berharap pelatihan berkelanjutan dapat terus dilakukan untuk mencetak generasi bangsa yang sehat secara fisik maupun mental.
Para guru menyampaikan rasa terima kasih kepada Yayasan Wadah karena pengetahuan ini dapat diimplementasikan kepada para orang tua di komunitas. Dengan demikian, dampak positif kesehatan mental dapat menyebar dari guru ke murid, dari murid ke keluarga, dan akhirnya ke seluruh komunitas. Seperti pesan penutup pada workshop ini, "Sayangi dirimu, sebelum menyayangi orang lain."

Foto bersama
Author: Ani Widyastutik
Editor: Zul Herman





