+62 21 5799 2162

Hadir di SEWF25: Upaya Wadah Menciptakan Kewirausahaan Sosial yang Kuat

Akhir Oktober lalu, Paula dan Lilik Juniarti dari Yayasan Wadah dan Koperasi Wadah, menyelesaikan perjalanan mereka ke Taipei, Taiwan, menghadiri acara Social Enterprise World Forum 2025 (SEWF25). Acara 2 tahunan yang dihadiri lebih dari 1000 peserta dari 73 negara ini berhasil mengumpulkan komunitas Social Enterprise atau Wirausaha Sosial dari seluruh dunia.

SEWF25 (27-31 Oktober 2025) merupakan pertemuan global komunitas wirausaha sosial, yang kali ini diadakan di Taipei, Taiwan. Forum ini menyediakan ruang dan kesempatan bagi para wirausahawan, inovator, dan agen perubahan dari seluruh dunia untuk saling belajar, saling terhubung, dan saling menginspirasi.

Pembukaan SEWF 2025

SEWF yang didirikan di Edinburgh, Scotland pada tahun 2008 oleh Gerry Higgins kini telah tumbuh menjadi organisasi global terkemuka yang berkomitmen memperkuat gerakan wirausaha sosial dan transisi menuju ekonomi baru. Forum internasional ini memiliki team di berbagai negara termasuk England, Sri Langka, Portugal, Nigeria, India, Amerika Serikat, dan Scotland sendiri.

Para peserta SEWF 2025 yang hadir

Tiga Pelajaran Kunci dari SEWF25

Paula dan Lilik menjelaskan bahwa tujuan mereka hadir dalam acara SEWF25 adalah untuk menyerap tren, inovasi, dan potensi kolaborasi kewirausahaan sosial global. “Paling tidak ada tiga pelajaran kunci dan cetak biru untuk Wadah yang kami bawa dari SEWF25”, ungkap Paula dan Lilik.

Sesi diskusi storytelling blueprint

Pelajaran terpenting adalah pendefinisian Social Enterprise (SE). SE harus Impact-first, artinya dampak sosial adalah tujuan utama dan menjadi alasan keberadaan perusahaan. Kegiatan ekonomi hanya berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan pendapatan dan keuntungan yang kemudian harus diinvestasikan kembali untuk memperluas misi sosialnya.

Saat melakukan city tour di Distrik Dadaocheng, kami melihat bagaimana aset sumber daya setempat—tradisi, arsitektur, dan budaya—digunakan untuk regenerasi perkotaan”, ungkap Paula dan Lilik. “Model ini menginspirasi kami untuk mengusulkan Modul Regenerasi Berbasis Aset Lokal (RBAL)”, lanjut mereka. Mereka meyakini bahwa Modul ini akan membantu komunitas Wadah mengidentifikasi dan memanfaatkan kekayaan lokal mereka sebagai inti dari model bisnis baru.

Lebih jauh Paula dan Lilik mengatakan bahwa dalam diskusi dan berbagi cerita bersama peserta lainnya, mereka menemukan bahwa tantangan terbesar SE secara global adalah kurangnya mindset business atau pola pikir bisnis dan keterbatasan keterampilan administrasi/keuangan.

Sesi diskusi bersama

Inovasi Kurikulum WUEI

Untuk mengatasi kurangnya mindset business dan keterampilan administrasi/keuangan, Paula dan Lilik mengusulkan untuk melakukan pembaharuan atau inovasi kurikulum Wadah Universal Education Initiative (WUEI) dengan dua fokus:

• Merancang modul yang jelas untuk membedakan antara Charity Mindset atau pola pikir amal dan Business Mindset for Impact (Pola Pikir Bisnis yang berdampak).

• Memberikan panduan praktis tentang administrasi sederhana (pembukuan) dan cara mengukur serta mengomunikasikan dampak

"Ruang Kolaborasi Wadah” menjadi sarana program Inkubasi lanjutan yang melibatkan sinergi tiga entitas, yaitu Yayasan Wadah (fokus pada pendampingan), Koperasi Wadah (menyediakan modal bergulir/pinjaman lunak) dan PT API (bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan akses pasar melalui model pelayanan ritel atau Retail-as-a-Service).

Program ini akan memetakan komunitas Wadah berdasarkan kesiapan mereka menjadi SE, memastikan dukungan yang diberikan benar-benar sesuai dengan skala dan kebutuhan usaha masing-masing.

“Pengalaman di SEWF 2025 telah memberi kami peta jalan yang jelas,” ungkap Paula dan Lilik. “Kini saatnya bergerak bersama untuk menjadikan kewirausahaan sosial di komunitas Wadah menjadi model yang kuat dan berkelanjutan”, kata mereka mengakhiri.

Paula dan Lilik foto bersama dengan peserta lainnya

Author: Paula Stela Landowero
Editor: Zul Herman

Comment