+62 21 5799 2162

Kisah Inspiratif Uswatun Khasanah: Menumbuhkan “Bunga Budaya” dari Desa

Uswatun Khasanah, atau yang akrab disapa Mba Atun, warga Desa Demangan, Argodadi, Sedayu, Bantul, adalah adalah lulusan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta jurusan Seni Tari tahun 2012. Kesukaan Atun pada seni tari memang sudah terlihat sejak usia remajanya. Baginya menari bukan lagi sekadar hobi, tetapi merupakan panggilan hati yang kini sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Setelah lulus SMKI, Atun mulai memberikan les tari privat untuk anak-anak di desanya. Saat itu, di lingkungannya belum ada sanggar tari. Dari situlah muncul gagasannya untuk membuka ruang belajar seni bagi anak-anak di sekitar rumahnya. Maka pada tahun 2015, lahirlah Sanggar Kartika Budaya, yang berarti bunga budaya. Nama itu dipilih dengan harapan agar anak-anak didiknya kelak menjadi “bunga-bunga budaya Indonesia” yang terus mekar, menjaga dan melestarikan kekayaan seni daerah. Seiring waktu, Atun juga dipercaya mengajar di berbagai sekolah dan bahkan bergabung sebagai tutor di Wadah Arsem, tempatnya kini menebar inspirasi lebih luas.

Mba Atun mengajar anak-anak sanggar

Melalui Seni Tari Membangun Generasi

Perjalanan hidup Atun ternyata bukan hanya tentang menari, dia juga berupaya mencermati lebih dalam kebutuhan anak-anak yang diasuhnya. Dari ruang kelas dan sanggar kecilnya itu, ia belajar bahwa setiap anak memiliki cerita dan tantangannya masing-masing. Ada yang berbakat namun terkendala ekonomi, ada pula yang kesulitan belajar karena orang tuanya sibuk bekerja. Dari situlah tumbuh tekad Atun untuk membantu mereka, meski bukan dalam bentuk materi, melainkan dengan keahliannya sebagai seniwati tari lulusan SMKI yang ia jalankan sepenuh hatinya.

Ia mulai mengembangkan metode belajar yang lebih menyenangkan; memadukan tarian dengan permainan tradisional dan nilai-nilai karakter. Anak-anak tidak hanya belajar gerakan, tetapi juga belajar percaya diri, bekerja sama, dan menghargai budaya sendiri. Pendekatan inilah yang membuat Sanggar Kartika Budaya menjadi lebih hidup dan dicintai banyak anak serta orang tua.

Anak-anak sanggar sedang berlatih

Dampak dan Pertumbuhan Diri

Melalui perjalanannya bersama komunitas dan Wadah, Atun merasakan peningkatan besar dalam kompetensi dan motivasinya. Ia belajar banyak dari interaksi dengan anak-anak, orang tua, dan masyarakat sekitar. Dari obrolan sederhana hingga pengalaman di lapangan, semua memperkaya wawasan dan semangatnya untuk memberdayakan anak-anak serta melestarikan budaya Jawa.

Tak hanya itu, ia juga turut mendirikan Bimbel Rumah Cerdas tempat belajar bagi anak-anak sekitar, dan mengupayakan Nomor Induk Kesenian (NIK) agar bisa mengakses dana pengembangan seni tanpa membebani anak-anak binaannya.

Dampak dari kegigihan ini terasa nyata. Anak-anak yang dulu pemalu kini tampil percaya diri di panggung, bahkan beberapa sudah berani mewakili sanggarnya dalam lomba seni tari. Orang tua yang semula hanya menjadi penonton kini ikut terlibat, membantu menyiapkan kostum, properti, bahkan menyediakan camilan untuk latihan. Sanggar kecil yang dulu sederhana kini menjadi wadah kebersamaan, tempat anak-anak belajar disiplin, sopan santun, dan kerja keras.

Bagi masyarakat sekitar, keberadaan Sanggar Kartika Budaya membawa warna baru, bukan hanya sebagai ruang berkesenian, tapi juga tempat menghidupkan kembali nilai gotong-royong dan kebanggaan terhadap budaya lokal. Banyak orang tua merasa terbantu karena anak-anak mereka memiliki kegiatan positif di hari liburnya, jauh dari gawai dan pergaulan yang tidak sehat.

Anak-anak Sanggar Tari Kartika Budaya mengikuti berbagai perlombaan

Tetap Semangat Menghadapi Tantangan

Dalam membangun dan mengembangkan sanggarnya, Atun tidak selalu menemui jalan yang mulus. Berbagai tantangan harus dia hadapi, mulai dari persaingan antar sanggar, hingga ujian mental saat menghadapi pandangan negatif orang lain. Beberapa anak memang sempat pindah ke sanggar lain, namun hal itu tidak membuat Atun menyerah. Justru, ia mencari cara agar anak- anak tetap bersemangat dengan mengajak mereka tampil di luar desa, mengikuti lomba, dan melibatkan siswa-siswi sekolah tempatnya mengajar ikut bergabung di sanggar.

Setiap tantangan justru menjadi pemicu semangatnya. “Kadang sakit hati memang muncul,” kata Atun mengakui. “Tapi dari situ saya belajar untuk bangkit dan membuktikan bahwa saya bisa. Saya harus berhasil,” ujar Atun melanjutkan dengan optimis.

Kini, Sanggar Kartika Budaya terus tumbuh menjadi rumah bagi anak-anak yang ingin menari, belajar, dan mencintai budayanya. “Saya bersyukur menjadi bagian dari keluarga Wadah yang selalu mendukung, memberi semangat, dan mendorong kami untuk terus maju,” ungkap Atun penuh Syukur. “Semoga cita-cita kami untuk melestarikan budaya dan memberdayakan masyarakat bisa terwujud,” tutup Atun.

Bangunan baru Sanggar Tari Kartika Budaya

Author: Dwi Septiani
Editor: Zul Herman

Comment