+62 21 5799 2162

Ripple Effects: Kisah Dua Perempuan yang Mengubah Dunia dari Hal-Hal Kecil

Bayangkan sebuah batu kecil jatuh ke air yang tenang. Riak-riak bergerak ke luar, pelan pada awalnya, lalu melebar. Seperti itulah kebaikan bekerja—kecil di awal, namun mampu menyentuh tepian yang jauh. Ukurannya tak pernah sebanding dengan gemanya.

Inilah kisah dua perempuan Indonesia yang membuktikan kebenaran analogi tersebut: Listyaningsih yang suka dipanggil Bunda Lis dari Kebon Tebu, Penjaringan, Jakarta Utara, dan Dwi Septiani dari Warabal, Bogor. Keduanya tidak menyandang gelar kekuasaan. Mereka tidak bergelar profesor atau memimpin organisasi besar. Namun ketika tetangganya menyebut nama mereka, nada suara terus berubah. Ada secercah harapan yang hadir.

Bermula dari Hal Sederhana

Pada masa itu, di Kebon Tebu, menjadi lulusan SMA sudah dianggap pencapaian luar biasa. Di tengah keterbatasan ini, Bunda Lis menyaksikan anak-anak tumbuh tanpa kesempatan belajar. Ada kekosongan yang menunggu untuk diisi. Maka ia memulai dengan cara paling sederhana: mengumpulkan anak-anak di rumahnya, bernyanyi dan membuat yel-yel bersama. Tidak ada kurikulum, hanya kehangatan di balik setiap gerakan dan niat tulus yang ada disetiap pertemuan.

Bunda Lis bersama anak-anak di Kebon Tebu Penjaringan tahun 2007

Kemudian, Dwi—yang akrab disapa Uwi—sejak belia sudah menunjukkan karakter khasnya. Setiap mendapat uang jajan, ia diam-diam memberikannya kepada teman yang lebih membutuhkan. “Dwi tidak pernah memberitahu saya bahwa dia memberikan uang jajannya kepada temannya,” kenang Kiswanti, ibunya yang juga seorang aktivis literasi dan tokoh masyarakat di kampungnya.

Dwi saat masih remaja tahun 2008

Bertumbuh Bersama Yayasan Wadah

Dorongan berubah menjadi aksi ketika tekad bertemu arah yang tepat. Di sinilah Yayasan Wadah Titian Harapan (Wadah) hadir sebagai mitra perjalanan mereka. Bunda Lis mendapat dukungan untuk mengembangkan kemampuan mengajarnya dan mengubah PAUD yang awalnya otodidak menjadi lembaga yang lebih terstruktur hingga akhirnya meraih akreditasi B.

Bunda Lis mengajari anak-anak di PAUD Al-Hidayah

Bagi Dwi, Yayasan Wadah sangat Istimewa, karena lembaga nirlaba ini menjadi tempat ia menemukan panggilan hidupnya. Dari peserta belajar biasa, ia dipercaya membantu mengajar PAUD dan bimbingan belajar, hingga akhirnya menjadi staf dan dipercaya memimpin Rumah Daerah Wadah di Bogor tahun 2020. Yayasan Wadah tidak hanya memberi wadah—tetapi juga menumbuhkan potensi Dwi yang selama ini tersembunyi. Anak kedua Bunda Kis ini kini menjadi fasilitator di Yayasan Wadah dan memimpin sejumlah program bersama komunitas.

Dwi mengajari anak-anak di PAUD Nurul Qalbu Dwi bersama rekan kerja di Wadah

Filosofi yang Membimbing

Bunda Lis menjalani hidup dengan satu kebenaran: kebahagiaan tumbuh ketika ia bisa mengangkat martabat orang lain. Jiwanya menemukan kedamaian dalam memberi, bukan karena pamrih tetapi karena terasa benar.

Dwi memiliki filosofi tak kalah mendalam: “Kalau kamu ingin mengalir seperti air, itu bagus. Tapi jangan pernah mengalir ke tempat yang kotor, karena itu akan mencemari semuanya.” Ia juga selalu menekankan untuk melihat dampak jangka panjang dari suatu bantuan, bukan kepuasan sesaat, seperti yang disampaikan suaminya.

"Bunda Lis bukan diktator. Beliau melihat kami sebagai setara,” ungkap salah satu rekannya. Hal serupa terlihat pada Dwi—ketika ia menjadi staf Yayasan Wadah dan dipercaya memimpin Rumah Daerah Wadah di Bogor tahun 2020, ia tetap menjadi rekan, bukan atasan.

Keduanya juga piawai menumbuhkan potensi orang lain. Bunda Lis mengubah seorang guru pemalu menjadi wali kelas yang percaya diri. Sementara itu, Dwi mengajarkan rekan-rekannya cara mengendalikan emosi saat mengajar. Di Warabal, pola regenerasi indah telah terbentuk dengan baik—yang dulunya murid kini menjadi guru dan pengurus.

Mendefinisikan Ulang Kesuksesan

Langkah kecil yang konsisten akan membuahkan hasil nyata. Bunda Lis, saat ini telah menjadi seorang Sarjana Pendidikan anak usia dini dan mengembangkan kegiatannya tak hanya di PAUD, kini ia mulai membuka kursus pelatihan komputer dan membangun tim. Sementara itu, Dwi mengaku pandangan hidupnya berubah total: “Dulu saya pikir sukses itu mobil mewah dan rumah besar. Ternyata saya salah. Sukses adalah ketika kita bisa membuat orang tersenyum. Saya bisa membayangkan senyum mereka—dan saya bahagia.”

Bunda Lis pun tak berpuas hati dengan apa yang sudah berhasil dicapainya. “Saya tidak puas. Saya akan terus belajar menjadi teman, pemimpin, dan pembina yang mengutamakan kesejahteraan semua.”

Bunda Lis bersama guru-guru PAUD dan LKP Dwi bersama guru-guru PAUD

Riak yang Terus Menyebar

Kisah dua perempuan enerjik ini merupakan pengingat: perubahan besar tidak selalu membutuhkan sumber daya besar. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah satu orang yang melihat kekosongan dan memutuskan untuk mengisinya.

“Batu kecil” yang mereka jatuhkan bertahun-tahun lalu kini menciptakan riak-riak yang menyentuh kehidupan tak terhitung jumlahnya. Ripple effects. Itulah yang terjadi ketika kebaikan dilakukan dengan tulus.

Maka pertanyaannya sekarang: batu kecil apa yang bisa Anda jatuhkan hari ini? Siapa yang bisa Anda bantu tersenyum? Karena seperti cerita dua perempuan luar biasa ini—kita tidak perlu menunggu menjadi besar untuk memulai.

Bunda Lis mengajar di LKP Al-Hidayah - Dwi di Leadership Camp 2023

Author: Grace Sri Maria Namora Situmorang
Editor: Zul Herman

Comment