+62 21 5799 2162

Membangun Kolaborasi Strategis Tiga Lembaga: Yayasan Wadah, YAD, dan Scripps College

Perayaan 100 Tahun Scripps College di Jakarta

Terdapat momen-momen dalam hidup yang tidak datang dari rencana yang besar, melainkan dari sebuah ikatan yang sederhana, yaitu kenangan, rasa cinta pada tempat yang pernah membentuk seseorang, dan keinginan untuk berbagi. Hal inilah yang menjadi titik awal kolaborasi strategis antara Yayasan Wadah Titian Harapan (Wadah), Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), dan Scripps College.

Bermula dari Sebuah Komitmen Alumni

Kolaborasi ini tidak lahir dari ruang formal semata, ia tumbuh dari inisiatif Sitie Indrawati Djojohadikusumo, alumnus Scripps College yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Yayasan Wadah Titian Harapan, sekaligus Wakil Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo. Dengan pengalaman akademis yang diperoleh dari kampusnya, ia melihat peluang yang jarang ada: mempertemukan semangat kaum muda terdidik dari berbagai belahan dunia dengan pengalaman dan realita di lapangan.

Baginya, ini bukan sekadar program pertukaran, tetapi cara memberikan kembali kepada institusi yang telah membentuknya, sebuah “giving back” yang melampaui sekat profesi dan negara. Inisiatif ini diwujudkan melalui penandatanganan MoU (Nota Kesepahaman) yang dilaksanakan pada tanggal 9 Februari 2026 di Jakarta.

Wujud Nyata Kolaborasi Tiga Lembaga

Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Wadah, YAD, dan Scripps College

Kolaborasi ini mempertemukan tiga institusi dengan keahliannya masing-masing, yang bermuara menjadi satu program volunteering (kesukarelawanan) internasional terstruktur dalam satu ekosistem kerja yang saling menopang.

Yayasan Wadah Titian Harapan hadir sebagai fasilitator pemberdayaan yang menghubungkan sukarelawan internasional dengan komunitas. Melalui pendekatan “community-based development”, mahasiswa diajak memahami bagaimana pemberdayaan masyarakat bekerja dari akar rumput, yaitu mendengar kebutuhan masyarakat, memahami dinamika sosial-budaya, dan berkontribusi pada program-program yang telah terbukti menggerakkan perubahan. Di sinilah mahasiswa belajar bahwa pemberdayaan sejati bukan tentang memberi solusi, melainkan tentang menguatkan kapasitas setiap pribadi agar mampu menghadapi tantangannya sendiri.

Yayasan Arsari Djojohadikusumo berperan sebagai pusat pembelajaran di alam. Di sini, mahasiswa Scripps College akan terlibat langsung dalam kegiatan rehabilitasi satwa terancam punah, pemulihan ekosistem, dan praktik konservasi lingkungan berbasis komunitas. Mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi menjadi bagian dari proses nyata dengan berkontribusi langsung dalam proses perawatan satwa terancam punah, membantu pemulihan habitat, dan mendokumentasikan perkembangan program konservasi yang sedang berjalan.

Scripps College adalah sebuah perguruan tinggi internasional bergengsi yang berbasis di California Selatan, Amerika Serikat. Didirikan pada tahun 1926 oleh pengusaha surat kabar dan filantropis Ellen Browning Scripps, lembaga ini berdiri sebagai upaya memperjuangkan pendidikan perempuan sesuai visi dan misi pendirinya.

Lembaga pendidikan di Amerika ini tidak hanya mengirim mahasiswa sebagai sukarelawan, tetapi juga berperan sebagai mitra akademis yang membawa perspektif global dan jaringan internasional. Keterlibatan lembaga pendidikan tinggi ini akan memberikan dimensi ilmiah sekaligus legitimasi global terhadap program yang dijalankan oleh Yayasan Wadah Titian Harapan dan Yayasan Arsari Djojohadikusumo di Indonesia.

Volunteering sebagai Ruang Belajar Lintas Budaya

Kunjungan Scripps College ke komunitas Al-HIdayah Penjaringan

Program volunteering lintas negara ini dirancang untuk memberikan pengalaman imersif kepada mahasiswa Scripps College. Mahasiswa tidak hanya datang sebagai tamu atau pengamat. Mereka terjun langsung ke komunitas Yayasan Wadah Titian Harapan dan Yayasan Arsari Djojohadikusumo.

Dalam perspektif pemberdayaan masyarakat, pendekatan seperti ini dikenal sebagai participatory engagement, yaitu sebuah metode di mana sukarelawan bukan menjadi subyek yang “memberi”, melainkan mitra yang “tumbuh bersama.” Mahasiswa Scripps College akan menghadapi kompleksitas isu sosial, lingkungan, dan budaya yang tidak bisa dipelajari hanya dari buku teks. Mahasiswa akan merasakan langsung bagaimana konservasi satwa dan rehabilitasi ekosistem bersinggungan erat dengan kehidupan masyarakat sekitar. Kegiatan yang dilakukan secara lintas budaya, lintas bahasa, dan lintas cara pandang ini menjadi laboratorium kehidupan yang sesungguhnya.

Dampak Dua Arah: Inspirasi dan Kredibilitas

Diskusi antara Scripps College dan Guru-guru PAUD Al-Hidayah

Kolaborasi ini menghadirkan dampak yang bersifat timbal balik. Bagi mahasiswa, setiap hari di lapangan adalah investasi pengalaman yang sangat bernilai. Diharapkan mahasiswa pulang bukan hanya dengan foto dan kenangan, tetapi dengan perspektif yang lebih luas, empati yang lebih dalam, dan pemahaman bahwa kerja nyata di komunitas adalah bentuk kepemimpinan paling autentik dan paling menginspirasi.

Bagi komunitas atau masyarakat lokal, kehadiran sukarelawan internasional yang tulus dan terstruktur membawa energi baru. Ada rasa bangga yang tumbuh ketika komunitas mereka diakui sebagai tempat yang layak dikunjungi, dipelajari, dan diperjuangkan oleh generasi muda dari California, Amerika Serikat itu. Pengakuan ini bukan hal kecil, karena menguatkan kepercayaan diri komunitas bahwa apa yang mereka jaga dan perjuangkan setiap hari memiliki nilai yang jauh melampaui batas diri mereka.

Sementara itu, bagi Yayasan Wadah Titian Harapan dan Yayasan Arsari Djojohadikusumo, kehadiran mitra internasional dari Scripps College membuka babak baru dalam perjalanan kelembagaan. Program ini menjadi bukti konkret bahwa kapasitas, kredibilitas, dan dampak yang telah dibangun selama ini diakui melampaui batas nasional. Ini adalah peningkatan branding dan awareness yang organik, bukan hasil kampanye, melainkan buah dari kerja keras yang nyata terlihat.

Menjadi Wadah yang Menginspirasi

Wadah Learning Centre di Ambon & PKR (Pusat Konservasi Riau)

Inilah esensi dari volunteering yang transformatif: bukan tentang siapa yang “lebih tahu” atau “lebih mampu,” melainkan tentang keberanian untuk hadir, mendengar, dan bekerja bersama demi tujuan yang lebih besar dari diri sendiri. “Bersama, kita tidak hanya memberdayakan masyarakat dan merawat lingkungan, tetapi merawat harapan, dan harapan itulah yang akan terus menginspirasi banyak orang untuk bergerak mencapai perubahan.”

Author: Wahyuning Dwi Wardani Ndraha

Editor: Zul Herman

Comment